Filosofi Wabi-Sabi Ditinjau Dari Perspektif Tasawuf Akhlaki

Penulis

  • Adelia Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Penulis
  • Saifullah Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Penulis
  • Sukiyat Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Penulis

Kata Kunci:

Wabi-Sabi, Tasawuf Akhlaki, Jepang, Islam

Abstrak

Penelitian ini mengkaji filosofi wabi-sabi sebagai pandangan hidup masyarakat Jepang yang berakar pada ajaran Zen Buddhisme dan menekankan kesederhanaan, penerimaan ketidaksempurnaan, serta kesadaran akan kefanaan. Topik ini penting  karena wabi-sabi selama ini lebih banyak dipahami sebatas konsep estetika, sementara dimensi etis dan spiritualnya sebagai cara hidup belum banyak dikaji, khususnya dalam dialog dengan pemikiran Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis wabi-sabi dari perspektif tasawuf akhlaki untuk menemukan keselarasan nilai-nilai etis dan spiritual di antara keduanya. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif dan deskriptif-analitis melalui telaah terhadap literatur filsafat Jepang dan karya-karya tasawuf akhlaki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai utama wabi-sabi memiliki korespondensi etis dengan maqāmāt dalam tasawuf akhlaki, khususnya sabar, syukur, zuhud, qanā‘ah, dan ridha. Keduanya sama-sama menekankan kesederhanaan, penerimaan terhadap realitas, kesadaran akan kefanaan, dan rasa cukup sebagai jalan menuju ketenangan batin. Meskipun berbeda secara teologis, wabi-sabi dan tasawuf akhlaki menawarkan kerangka etis yang relevan untuk membentuk sikap hidup yang bijaksana di tengah modernitas yang materialistis dan perfeksionis.

Unduhan

Data unduhan tidak tersedia.

Referensi

Ainie, Isnin, Cahyaningsih Pujimahanani, dan Syifa Aulia Mareta. (2023). The beauty of wabi-sabi as the spirit of life of the oldman in Japanese fairytale. Sakura: Journal of Japanese Studies, 5(1).

Akmal, dan Masyhuri. (2018). Konsep syukur (gratefulness): Kajian empiris makna syukur bagi guru Pon-Pes Daarunnahdhah Thawalib Bangkinang Seberang, Kampar, Riau. Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, 7(1).

Alansyari, Roihan. (2021). Pendidikan karakter melalui tasawuf akhlaki perspektif Al-Qur’an (Disertasi). Institut PTIQ Jakarta.

Al-Ghazali, Abu Hamid. (2012). Terapi sabar dan syukur (alih bahasa Abdul Rosyad). Jakarta: Khatulistiwa Press.

Al-Ghazali, Abu Hamid. (2014). Tafakur sesaat lebih baik daripada ibadah setahun: Percikan Ihya’ ‘Ulum al-Din (alih bahasa Abdullah bin Nuh). Jakarta Selatan: Mizan.

Al-Ghazali, Abu Hamid. (2016). Ihya’ ‘Ulumiddin: Menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama sabar dan syukur, jilid 8. Jakarta: Republika.

Al-Ghazali, Abu Hamid. (2019). Ringkasan Ihya’ Ulumuddin (alih bahasa Achmad Sunarto). Surabaya: Mutiara Ilmu Agenci.

An-Naisaburi, Al-Qusyairi. (2007). Risālah al-Qusyairiyyah: Sumber kajian ilmu tasawuf (alih bahasa Umar Faruq). Jakarta: Pustaka Amani.

As-Sarraj, Abu Nashr. (2002). Al-Luma’: Rujukan lengkap ilmu tasawuf (alih bahasa Wasmukan dan Samson Rahman). Surabaya: Risalah Gusti.

Azis, Abdul, dan Soni Samsu Rizal. (2019). Konsep ridhâ Allah dalam diskursus pendidikan Islam. Tajdid, 26(1).

Cooper, Tracy M. (2013). The wabi-sabi way: Antidote for a dualistic culture? Journal of Conscious Evolution, 10.

Davies, Roger J., dan Osamu Ikeno. (2002). The Japanese mind: Understanding contemporary Japanese culture. Tokyo: Tuttle Publishing.

Fallahnejad, Asal. (2025). The philosophy of wabi-sabi in Japanese culture and its effects on modern lifestyle for young Japanese. Journal of Academic Ethics, 1.

Fasya, Adib ‘Aunillah. (2022). Konsep tasawuf menurut Imam Al-Ghazali. Jurnal Tasawuf dan Psikoterapi, 2.

Firdaus, Muhammad Taufiq. (2019). Syukur dalam perspektif Al-Qur’an. Jurnal Mimbar, 5(1).

Firdaus, Muhammad Taufiq. (2021). Konsep tasawuf Ibnu Atha’illah al-Sakandari dan relevansinya dengan konseling psikosufistik. Islamic Counseling: Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam, 5(1).

Hakim, Luqmanul, dan Uqbatul Khoir Rambe. (2025). Keindahan sentuhan tafsir Qusyairi dalam menafsirkan syukur. Kamaya: Jurnal Ilmu Agama, 8(3).

Hasanah, Kalbening. (2018). Visualisasi keindahan wabi-sabi dalam busana kulit art wear (Skripsi). Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Hasibuan, Sekar Fatinah, dkk. (2024). Analisis budaya Jepang dalam buku Goodbye, Things: Hidup minimalis ala orang Jepang oleh Fumio Sasaki. Kiryoku: Jurnal Studi Kejepangan, 8(1).

Hisamatsu, Shin’ichi. (1982). Zen and the fine arts (alih bahasa Gishin Tokiwa). Tokyo: Kodansha International.

Husnah, Miftahul. (2023). Nilai estetika wabi-sabi dan penerapannya pada wagashi (Skripsi). Universitas Darma Persada.

Kaelan. (2005). Metode penelitian kualitatif bidang filsafat. Yogyakarta: Paramadina.

Kahfi, Rafli, dkk. (2023). Klasifikasi tasawuf: Amali, falsafi, akhlaki. Jurnal Pendidikan dan Konseling, 5(1).

Kempton, Beth. (2018). Wabi-sabi: Japanese wisdom for a perfectly imperfect life. London: Piatkus.

Mahmuddin. (2024). Menempuh jalan spiritualitas: Esai-esai tentang spiritualitas Muslim dalam kehidupan. Makassar: Pusaka Almaida.

Melati, Sri, dkk. (2025). Qanā’ah dan pengaruhnya terhadap kesehatan jiwa menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar. Al-Fahmu: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 4.

Miswar. (2017). Maqamat (tahapan yang harus ditempuh dalam proses bertasawuf). Jurnal Ansirupa, 1(2), Juli–Desember.

Muhtaman, Dwi R. (2020). Shinrin-yoku. Bogor: Remark Asia Publishing House.

Munir, Misbachul. (2019). Konsep sabar menurut Al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din. Spiritualis, 5.

Parmono, Kartini. (1999). Konsep estetika Jepang: Corak naturalis yang dijiwai oleh tradisi, kepercayaan, dan alam. Jurnal Filsafat, Seri ke-30, Oktober.

Putri, Anastasia Merry Christiani Widya dan Ratna Handayani. (2010) Prinsip Dasar Budha Zen dalam Chanoyu. Lingua Cultura, 4 (2)

Roihan, Alansyari. (2021). Pendidikan karakter melalui tasawuf akhlaki perspektif Al-Qur’an (Disertasi). Institut PTIQ Jakarta.

Sari, Erika Permata. (2011). Karakteristik Zen pada taman Karesansui (Skripsi). Universitas Darma Persada.

Samad, Sitti Aminah. (2020). Pembelajaran akhlak tasawuf dan pembentukan karakter mahasiswa di perguruan tinggi Islam. At-Ta’dib: Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam, 149–162. https://doi.org/10.47498/tadib.v12i02.382

Simanungkalit, Denny Christian. (2018). Filosofi dan nilai-nilai estetika Jepang pada kintsugi (Skripsi). Universitas Darma Persada.

Suzuki, Nobuo. (2021). Wabi-sabi: The wisdom in imperfection. Tokyo: Tuttle Publishing.

Syifa, Awalia, dkk. (2024). Hubungan Panta Rhei dan keadilan dalam pemikiran Heraclitus. Praxis: Jurnal Filsafat Terapan, 1(2).

Tarigan, Azhari Akmal. (2016). Menuju arah baru studi tasawuf di Indonesia. Medan: Perdana Publishing.

Williams, Selene Calloni. (2020). Wabi-sabi. Milan: Piemme.

Winqvist, Agneta Nyholm. (2012). Wabi-sabi: Timeless wisdom for a stress-free life (alih bahasa Stine Skarpnes Osttveit). New York: Skyhorse Publishing.

Wulan, Sulistiyanie. (2021). The philosophy of wabi-sabi on Chashitsu Tai-an Myokian Shrine: A John Fiske’s semiotic analysis. Japanese Research on Linguistics, Literature, and Culture, 1.

Yazid bin Abdul Qodir Jawas. (2020). Dunia ini adalah tempat cobaan dan ujian. Tangerang: Ma’had Tahfizh Qur’an Ummahatul Mu’minin.

Yudesi, Rhafiny. (2019). Makna bunga sakura bagi masyarakat Jepang dan kaitannya dengan filosofi wabi-sabi (Skripsi). Universitas Bung Hatta.

Zulfikli, dan Jamaluddin. (2018). Akhlaq tasawuf: Jalan lurus mensucikan diri. Yogyakarta: Kalimedia.

Unduhan

Diterbitkan

2026-04-01

Cara Mengutip

Adelia, A., Saifullah, S., & Sukiyat, S. (2026). Filosofi Wabi-Sabi Ditinjau Dari Perspektif Tasawuf Akhlaki. At-Tarbiyah: Jurnal Penelitian Dan Pendidikan Agama Islam, 3(2), 127-141. https://journal.staittd.ac.id/index.php/at/article/view/821

Artikel Serupa

41-50 dari 273

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.